buih angin

---------------------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------------------


hanya pada kebenaran kita bisa berharap,
kemudian doa yang menjadi pengiringnya
raga sebagai penyelaras
lalu jiwa sebagai kompasnya

ketika kuning menjadi ungu
lalu primer membentuk sekunder
tersier adalah bagian terabstrak yang pernah kita lihat

ada perasaan sayang terhadap apa yang kita lalui ..
dan masa lalu mnjadi buih, lalu angin sebagai penentu arahnya
ketika pengelihatan mata melihat fatamorgana,
pasir melihat bayang yang semakin jelas

bayang putih dari setiap goresan wajahnya
dan cahaya tak bisa berbohong tentang keadaannya
dia yang selalu berdiskusi dengan alam
menemani udara layaknya buih angin
"ikha mustika"



1 komentar:

Unknown mengatakan...

masuk angin...

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.