0 komentar

jangan mengeluh

Bismillah...

kadang banyak dari kita yang mengeluh :

"aku sudah melakukan ini dan itu, mengusahakan, memasrahkan smua pd Allah, tapi mengapa aku masih saja begini?"
...
perlu kita koreksi :
apakah usaha kita benar sdh dgn cara yg berkah?
BETUL kah kita BENAR memasrahkan secara totalitas atas ikhtiar yg ada pd Allah?

dan kesabaran adalah dgn sabar dari SABAR itu sendiri,
SMoga istiqomah.

AMin.
read more
0 komentar

andaikan

ahhh bela2 in di warnet 2 jam supaya bisa djemput dy

di jemput sih tpi klo langsung pulang,gak sama sekali menghapus rasa rindu ..........
di bilang kesel ya kesel sih tpi gimana lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

dy ngrasainm apa yg gw rasa gak sih


ayah weekend besok aku gak sama km
seenggaknya kamu full senin sampai jum'at sama aku
itu hari juga gak full time kan sayang sama aku cuma hanya 4 3 atau 5 jam saja sama akuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu .. :"(
read more
0 komentar

ukhti

Terkadang kita (para akhwat) tak menyadari ketika sedang membicarakan seorang saudari, tercetuslah nada sinis, “ Jilbabnya pendek ”, “ Dia suka baca-baca tentang filsafat ”, “ Kalau ngomong sama dia itu harus dengan keras juga karena kalau lembut nanti nggak didengerin ”.
Ukhti, merinding aku mendengar kata-kata itu dari lisanmu
Seolah jilbabnya menghalangimu pandanganmu dari hatinya. Apakah kau bercermin ketika membicarakan aibnya,..??? Apakah engkau tak pikir persepsi akhwat lain yang mendengar ceritamu tentangnya,..??? Engkau tahu ukuran jilbabnya tapi pernahkah kau melihat sorot matanya ketika menggambarkan dakwah,..??? Bagaimana getaran suaranya yang begitu penuh haru. Engkau menghafal Qur’an ukhti, namun begitu fasih menggibah akhwat yang berbeda harokah denganmu, tilawahmu berjuz-juz tapi senang memperolok-olok kelemahan saudarimu. Ia memang membaca filsafat, tak sepertimu, yang senang dengan film dan artis Korea. Engkau menilai seorang akhwat sinis karena ia lebih suka mengatakan kebenaran daripada harus bermanis menjerumuskan, sedangkan engkau, lebih suka membicarakan saudarimu di belakang dengan alasan tidak bisa menyampaikannya atau bahkan kau ungkap di forum sehingga ia tak berkutik lagi menghadapimu yang memojokkannya. Engkau tak suka akhwat yang bersikap “dingin” karena menjaga diri, namun engkau,..??? Tertawa lepas di depan ikhwan. lantas, ketika ia jatuh tersungkur, dengan mudah kau berkata,
memang sudah sunatullahnya, hanya orang-orang yang punya niat lurus yang akan bertahan di jalan ini ”
Mungkin saat ini ia yang terpelanting, namun siapa menjamin kita akan tegak di jalan ini selamanya,..??? sadarkah bahwa hal-hal sederhana semacam ini yang menjadikan imej kita tak seperti yang diharapkan. pun tak perlu sampai kau berkata, “ Udahlah, nggak usah dengerin apa kata orang, kita kan nggak mungkin memaksa mereka merubah persepsi mereka ke kita. ” Memang ukhti, tdak mudah merubah persepsi orang lain terhadap kita tetapi kita lah yang perlahan merubah kebiasaan, sesuatu yang kadang luput dari pandangan kita. ana yakin ukhti, ini merupakan suatu perkara yang mudah untuk dirubah.
Sabda Rasulullah
Katakanlah kebenaran meskipun pahit ”
Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam…”
( HR Bukhari Muslim )
Jalan da’wah ini memang akan Allah bersihkan dari orang-orang yang punya niat selain daripadaNya. Namun, sisi manusiaku berkata, “ punyakah kita alasan untuk menahan hati mereka jika sampai mereka terluka,..??? ” kita ini orang-orang terasing ukhti. Orang-orang yang memilih pengorbanan sebagai jalan hidup. Jangan sampai kita turut mengasingkan saudara-saudari kita hanya karena mereka tak “ serupa ” dengan kita atau pun dengan mudahnya menilai mereka padahal taaruf kita pun belum sempurna dengannya.
Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan) . ”
( QS AL-Hujuraat : 11 )
Afwan jiddan ukhti, ana tahu ini pun bukan cara yang bijak untuk mengungkapkannya. Hanya saja fenomena ini tak hanya terjadi sekali dua dan tak hanya di satu dua tempat. terkadang mata kita tertutup akan kepedulian terhadap saudari-saudari kita ketika sedang lelah-lelahnya berjuang sehingga sulit bagi kita untuk mengedepankan husnuzhon.
Semoga ilustrasi tersebut dapat dijadikan hikmah
Semoga Allah Mengampuni kita serta Melembutkan dan Menguatkan hati kita kepada saudara/i kita seaqidah hingga kita mampu mencari 1001 alasan untuk berhusnuzhon kepadanya kita sembari membantunya berdiri dengan ahsan di kala ia terjatuh.
Wallahu a’lam bish showab.
Kebenaran dan kebaikan berasal dari Allah pun kembali kepadaNya
“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. ”
( QS An Nahl : 125 )
read more
0 komentar

laksana bidadari dalam hati suami

Allah Ta’ala berfirman,

كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ

Seakan – akan para bidadari itu permata yaqut dan marjan” (Qs. Ar-Rahman: 58)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Salah satu wanita surga, sungguh dapat dilihat putih betisnya dari balik tujuh puluh pakaian. Hal ini karena Allah berfirman, “Mereka bagaikan Yaqut dan Marjan.” Beliau melanjutkan, “Yaqut adalah batu. Kalau saja kawat dimasukkan ke dalamnya, kemudian kamu menjernihkanny, pasti kamu bisa melihat kawat dari balik batu tersebut.” (Hr. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban, di dalam Al Jami’)

read more
0 komentar

titipan wanita

بسم الله الرحمن الرحيم

"Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki."

Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apa gunanya aku menjadi perhatian lelaki andai murka Allah ada di situ.

Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang.

Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan.

Bagaimana akan kujawab di hadapan Allah kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi?

Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias peribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah.

Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?

Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu.

Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa.

Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.

Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku.

Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita yang lain, dilamar lelaki yang bakal memimpinku ke arah tujuan yang satu.

Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam, yang mampu mendebarkan hati jutaan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah.

Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dibazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk membuat begitu.

Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari redha Illahi.

Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu.

Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu.

Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku. Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku.

Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga.

Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan muhrimnya, cukuplah dengan itu hilang harga dirinya di hadapan Allah. Di hadapan Allah. Di hadapan Allah.

Yang dicari walau bukan putera raja, biarlah putera Agama.

Yang diimpi, biarlah tak punya rupa, asal sedap dipandang mata.

Yang dinilai, bukan sempurna sifat jasmani, asalkan sihat rohani dan hati.

Yang diharap, bukan jihad pada semangat, asal perjuangannya ada matlamat.

Yang datang, tak perlu rijal yang gemilang, kerana diri ini serikandi dengan silam yang kelam.

Yang dinanti, bukan lamaran dengan permata, cukuplah akad dan janji setia.

Dan yg akan terjadi, andai tak sama dgn kehendak hati, insyaAllah ku redha ketetapan Illahi..

Wahai wanita, ku ingatkan diriku dan dirimu, peliharalah diri dan jagalah kesucian.. semoga redha Allah akan sentiasa mengiringi dan memberkati perjalanan hidup ini.

read more
0 komentar

~**~ PEMIMPIN TERBAIKKU ~**~

Bismillahirrohmanirrohiim...

~*Hari ini adalah hari dimana Fatimah harus memutuskan sesuatu yang menyangkut masa depannya. Ubaidillah kah pria sholeh yang sederhana pilihannya, ataukah Ilyas pria kaya yang menjadi pilihan orang tua untuknya..

...

“Sekarang kamu harus memilih… Ubaidillah pria yang tak punya apa-apa, ataukah Ilyas pria pilihan keluarga?” perintah ayah.

“Ayah… apakah begini cara ayah medidikku? Beginikah sikap seorang ayah yang bijaksana?? Maafkan Fatimah, kali ini Fatimah tidak bisa mengikuti apa yang ayah inginkan. Hari ini juga Fatimah memutuskan bahwa Fatimah akan memilih Ubaid sebagai pendamping hidup Fatimah. Dan ini sudah menjadi keputusan Fatimah setelah Fatimah istikharah semalam.” Ucap Fatimah..

“Oh… jadi itu keputusanmu?? Ayah heran kenapa seorang sarjana sepertimu mau memilih laki-laki yang miskin seperti Ubaidillah itu. Ya, baguslah kalau begitu silahkan kamu urus sendiri pernikahanmu itu, ayah dan keluarga tak akan memberikan bantuan sepeserpun untukmu.” Ucap ayah kesal.

“Baiklah yah, Insya Alloh Fatimah juga tidak akan meminta bantuan kepada Ayah dan keluarga untuk acara pernikahan Fatimah nanti. Fatimah hanya minta pada ayah dan keluarga satu hal yaitu tolong ayah jadi wali Fatimah dan tolong keluarga juga nanti datang di acara pernikahan Fatimah. Itu sudah cukup bagi Fatimah” pinta Fatimah.

“Ya, mudah-mudahan kalo ayah dan keluarga tidak sibuk, dan ayah juga pinta padamu, setelah nikah nanti silahkan cari tempat tinggal sendiri dan jangan bawa suami tinggal dirumahku” ucap ayah sambil beranjak pergi.

Dua minggu kemudian pernikahan itu pun terlaksana. Tepatnya hari ahad 12 oktober 2008 pukul 10.00 dirumah kerabat jauhnya Fatimah. Tamu yang menghadiri pernikahan tersebut adalah para tetangga, sahabat-sahabatku dan sahabat-sahabat calon suamiku, kakak dari calon suamiku dan ayahku beserta empat anggota keluargaku. Dan ibuku tak terlihat hadir disini. Tahukah kenapa??? Ibuku dilarang oleh ayah untuk menghadiri acara pernikahanku. Padahal aku berharap ibuku hadir agar setidaknya mengikhaskan dan meridhoi jalanku dan calon suamiku.

Acara pernikahanku sederhana, karena permintaan calon suamiku maka tamu akhowat dan ikhwan pun terpisah, ada hijab tinggi yang memisahkan antara tamu akhowat dan ikhwan. Tak ada musik, tak ada pemotretan, dan bagiku itu biasa saja. Tapi bagi ayahku itu gila..

Kenapa kata ayah hal ini gila?? Karena bagi ayah ini pernikahan zaman dulu yang kuno, miskin, dan tidak modern sama sekali. Ya, begitulah ayahku. Ejekan saja yang kami dapatkan..

Setelah akad nikah maka sekarang aku sah menjadi istri Ubaidillah. Ya, dan ini berarti kesempatanku untuk bersama ibuku harus selesai sampai disini. Ayah dan empat anggota keluargaku pun pulang. tak ada sepatah kata pun, tak ada do’a dari seorang ayah untuk anaknya yang baru saja menempuh hidup baru. Tapi inilah yang harus ku terima.

♥****♥

Malam harinya setelah aku selesai sholat isya’, aku langsung menyiapkan makan malam untuk aku dan suamiku.

“masak apa sayang?? Tanya suamiku.”

“insya Alloh special untukmu abi” ucapku..

Suamiku pun makan, sementara aku hanya terdiam memikirkan ibuku yang tak bisa lagi ku jenguk.

“kenapa bersedih ummi?? Kok tidak di makan makanannya.?? Tanya suamiku penuh penasaran.

“Abi, fatimah kangen sama ibu. Inginku memeluknya bersujud memohon do’anya. Tapi tak bisa lagi sekarang” jawabku dengan penuh kesedihan.

“sayang, sekarang kita berdo’a agar ibu dirumah dalam keadaan baik dan senantiasa dilindungi oleh Alloh. Sekarang makanlah sayangku” Suamiku yang berusaha menenangkanku.

Hari demi hari ku lalui bersama suamiku, susah dan senang selalu bersama. Suamiku hanya seorang karyawan di sebuah toko buku kecil di desa kami. Penghasilan suamiku juga pas-pasan yakni berkisar antara 500.000 per bulannya. Walaupun begitu alhmdulillah masih bisa tercukupi karena juga penghasilanku yang lumayan besar yakni 4 juta per bulannya. Jadi kami mulai menabung untuk membangun rumah dan masa depan anak kami nanti jika kami punya anak.

♥*******♥

Tak terasa sudah satu setengah tahun aku menjalani hidup berumah tangga dengan saumiku. Suamiku memintaku agar aku berhijab secara sempurna yakni aku harus berniqab. Dan suamiku pernah mengajukan kepadaku kalo aku bisa dan tidak keberatan maka lebih baik aku dirumah saja.

Aku keberatan karena aku sudah terlanjur cinta dengan pekerjaanku, dan aku juga tidak mungkin berniqab seperti yang diinginkan suamiku.

Suatu ketika perusahaanku kena masalah, dan aku pun pusing dengan persoalan di perusahaanku, aku pun pusing dengan segala yang ku hadapi sekarang. Aku harus berniqablah, aku harus berhenti kerjalah dan sebagainya.

Waktu itu pukul 16.00 aku terpaksa pulang kerumah lebih awal. Karena aku mendapat kabar suamiku sakit. Aku langsung brgegas pulang dengan angkot..

Sesampainya dirumah aku langsung menuju kamar dan ternyata suamiku demam dan sedang tidur. Aku pun jadi tambah pusing. Urusan perusahaaan belum ku temukan solusinya, eh ini suamiku malah sakit. Akhirnya aku mmbelikan obat untuk suamiku dan meletakkannya di meja. Aku lalu segera sholat asar dan istrahat juga. Karna aku mulai merasa kurang sehat.

1 jam kemudian adzan maghrib pun berkumandang, suamiku bangun dan membangunkan ku yang sedang asyik tertidur di sofa kamar kami. Aku pun terbangun dan segera berwudhu dengan harapan agar aku bisa berjama’ah dengan suamiku. Tapi apa setelah aku kembali ke kamar, ternyata suamiku tidak ada. Suamiku ternyata pergi ke masjid. Subhanalloh suamiku, begitu kuatnya dirimu menjaga sholat berjama’ah sampai-sampai dalam keadaan sakit pun kau berusaha melangkahkan kakimu ke masjid.

Itu yang buat ku salut dari suamiku. Seperti apapun keadaanya dia senantiasa tidak ingin memberikan contoh bermalas-malasan kepadaku sebagai istrinya dalam perihal ibadah.

Aku pun sholat maghrib, mengaji dan sambil menunggu waktu sholat isya’ akhirnya ku siapkan makanan untuknya.

Setelah selesai semuanya, Alhamdulillah adzan isya’ pun berkumandang. Aku berwudhu lalu mngerjakan sholat isya’. Setelah itu aku tertidur diatas sajadahku.

Aku tak tahu kalo suamiku sudah pulang, aku pun tak tahu apakah suamiku sudah makan apa belum, apakah dia sudah minum obat apa belum. Entahlah aku tertidur begitu pulas karena kecape’an dan pusingnya kepalaku yang menyerangku.

“sayang….. bangun sayang. Tolong ambilkan abi air untuk kompres kepala bisa nggak??” pinta suamiku dengan penuh harap.

“abi… kalo mau ambil air ya abi ke kamar mandi saja sana biar abi ambil sendiri, ummi juga lagi pusing nih. Kenapa abi sakit malah merepotkan ummi sih?? Kita sama-sama pusing dan sakit jadi maaf ummi nggak bisa bantu abi” ucapku dalam keadaan ngantuk.

Waktu itu pukul 2.00 Suamiku tak berkata apa2 lagi. Ia langsung turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi ambil air untuk kompres kepalanya, ia makan sendiri, bahkan tahukah, suamiku pun langsung mencuci setumpuk pakaian yang belum sempat aku cuci.

Setelah itu suamiku kembali tidur lagi.

Pukul 3.00 aku tersadar, ku buta mataku perlahan aku kaget kok aku sekarang berada di atas tempat tidur? Setahuku aku semalam tertidur diatas sajadah yang ku letakkan dilantai kamarku. Tahukah?? Ternyata suamiku menggendongku ke tempat tidur, ia tutupi badanku dengan selimut, ia lepaskan mukenaku dan melipatnya dengan rapi.

Ya Alloh ternyata suamiku yang melakukan semua ini untukku.

Aku lalu menuju ke dapur untuk mengambil air minum, ternyata dapurku rapih dan bersih, aku pun masuk ke kamar mandi berwudhu untuk sholat tahajjud, ternyata tumpukan pakaian itu sudah tidak ada lagi, karena semua pakaian telah di cuci suamiku.

Ya Alloh betapa durhakanya aku yang tak mempedulikan suamiku semalam. Dia melakukan semua ini agar pekerjaan rumahku menjadi ringan, dia melakukan semua ini agar aku tidak perlu sibuk dengan semua ini. Ya Alloh padahal ini adalah kewajibanku..

Maafkanlah aku duhai suamiku….

Aku langsung menuju kamar dan ingin kutanyakan semua ini padanya, tapi ku lihat suamiku tertidur begitu pulas, ku dekati untuk ku perbaiki selimutnya, dan ternyata suamiku panas tinggi. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya aku langsung menelpon dokter dan alhmdulillah diperiksa. Setelah itu ku buatkan makanan utuknya, dan suamiku pun makan dan minum obat.

Qoddarullah ia sembuh dan bisa memulai aktivitas keesokan harinya. Suamiku lalu mengantarku kerja dengan menggunakan sepeda motor warisan dari ayahnya suamiku.

Sesampainya di kantor, aku langsung membuat surat pengunduran diriku, aku tidak akan lagi kerja. Aku ingin benar-benar mengabdi kepada suamiku tanpa aku harus keluar rumah.

Setelah ku serahkan surat pengunduran diriku, aku lalu mngirimkan SMS ke suamiku, “tolong jemput ummi bi, ummi tunggu abi di tempat biasa di depan kantor”

15 menit kemudian suamiku dtg, dan ia pun bingung kenapa aku minta dijemput lebih awal. Tapi ia hanya bisa diam karena aku mngatakan bahwa aku akan menceritakannya jika sudah tiba dirumah.

Sesampainya dirumah, aku pun mencerritakan alasan aku pulang cepat.

“abi, ummi telah mengundurkan diri, dan kini ummi ingin mengabdi kepada abi seperti yang abi pinta dahulu. Insya Alloh ini jalan yang terbaik yang ummi pilih.” Ucapku.

Suamiku meneteskan air mata, dia lalu memelukku dan mencium dahiku. Sambil mengucapkan Alhamdulillah….

♥*******♥

Kini aku pun berhenti kerja dan aku pun berniqab, kami alhmdulillah dikaruniai anak laki-laki yang kami beri nama Muhammad Ash-Shidiq. Dan dari anak kami inilah hubunganku dengan keluargaku akhirnya kembali sperti dulu lagi. Ayahku luluh dan mau menerima keluarga kecilku sebagai anggota keluarga.

Aku tahu sekarang, kenapa suamiku begitu menginginkanku berhenti kerja dan berniqab?? Semua itu dia lakukan karena dia ingin melindungiku, dia ingin menempatku di tempat terbaik, dia tidak ingin aku bercampur baur dengan yang bukan mahramku. Karena wanita adalah fitnah yang sangat besar. Seperti sabda Rasulullah saw “ Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih membahayakan laki-laki daripada wanita dan bahwa fitnah Bani israil terletak pada wanita”

Ya, suamiku orang terbaik yang pernah ku kenal di dunia ini, ia letak surga dan nerakaku. Ia tidak pernah membentakku, ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah bermalas-malasan dalam bekerja, ia selalu menunjukan bahwa ia pemimpin terbaik buatku. Ia memberiku kekuatan hanya dengan hatinya. Dengan tingkah lakunya, dan senyumnya ia membuatku yakin untuk tetap setia padanya, tetap bersamanya melangkah dan mengarungi bahtera rumah tangga sesuai dengan yang di contohkan Rasulullah saw dan para sahabat-sahabatnya, sampai tiba waktunya akan dipisahkan barulah akan terpisah..

Semoga kita semua adalah orang-orang yang beruntung yang kelak akan dipertemukan di jannahNya. Amiiin…

Satu pesanku, jadilah istri yang shalihah, ta’atlah pada suamimu, janganlah dikau wahai para akhowat sampai berkata kasar sehingga menyakiti suamimu, jagalah hartanya, dan lakukan yang terbaik untuknya.

Baarakallahu fiykum……

read more
0 komentar

·٠•●♥ Menikah, Kenapa Takut ?? ♥●•٠·˙


Bismillahirrohmanirrohiim...

Saat dua hati berjanji

Tuk arungi hidup di jalan-Nya

Allah kan berkahi mereka

Kala dalam doa kala dalam asa

Menjadilah mentari bening pagi

Terangi bumi terangi hati

Menjadilah keheningan malam

Kala berjuta insan larut dalam doa

Selamat datang kawan

Di duniamu yang baru

Kudoakan semoga bahagia

(Ketika Dua Hari Menyatu – Seismic)

***

Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas, menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan institusi rumah tangga, mengapa kita takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita beralasan ada resiko yang harus dipikul setelah menikah, bukankah perzinaan juga punya segudang resiko? Bahkan resikonya lebih besar. Bukankankah melajang ada juga resikonya?

Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.

Saya sering ngobrol, dengan kawaan-kawan yang masih melajang, padahal ia mampu untuk menikah. Setelah saya kejar alasannya, ternyata semua alasan itu tidak berpijak pada fondasi yang kuat: ada yang beralasan untuk mengumpulkan bekal terlebih dahulu, ada yang beralasan untuk mencari ilmu dulu, dan lain sebagainya. Berikut ini kita akan mengulas mengenai mengapa kita harus segera menikah? Sekaligus di celah pembahasan saya akan menjawab atas beberapa alasan yang pernah mereka kemukakan untuk membenarkan sikap.

Menikah itu Fitrah

Allah Taala menegakkan sunnah-Nya di alam ini atas dasar berpasang-pasangan. Wa min kulli syai’in khalaqnaa zaujain, dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan (Adz-Dzariyaat: 49). Ada siang ada malam, ada laki ada perempuan. Masing-masing memerankan fungsinya sesuai dengan tujuan utama yang telah Allah rencanakan. Tidak ada dari sunnah tersebut yang Allah ubah, kapanpun dan di manapun berada. Walan tajida lisunnatillah tabdilla, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah (Al-Ahzab: 62). Walan tajida lisunnatillah tahwiila, dan kamu tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu. (Al-Isra: 77)

Dengan melanggar sunnah itu berarti kita telah meletakkan diri pada posisi bahaya. Karena tidak mungkin Allah meletakkan sebuah sunnah tanpa ada kesatuan dan keterkaitan dengan sistem lainnya yang bekerja secara sempurna secara universal.

Manusia dengan kecanggihan ilmu dan peradabannya yang dicapai, tidak akan pernah mampu menggantikan sunnah ini dengan cara lain yang dikarang otaknya sendiri. Mengapa? Sebab, Allah swt telah membekali masing-masing manusia dengan fitrah yang sejalan dengan sunnah tersebut. Melanggar sunnah artinya menentang fitrahnya sendiri.

Bila sikap menentang fitrah ini terus-menerus dilakukan, maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia itu sendiri. Secara kasat mata, di antara yang paling tampak dari rahasia sunnah berpasang-pasangan ini adalah untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dari masa ke masa sampai titik waktu yang telah Allah tentukan. Bila institusi pernikahan dihilangkan, bisa dipastikan bahwa manusia telah musnah sejak ratusan abad yang silam.

Mungkin ada yang nyeletuk, tapi kalau hanya untuk mempertahankan keturunan tidak mesti dengan cara menikah. Dengan pergaulan bebas pun bisa. Anda bisa berkata demikian. Tetapi ada sisi lain dari fitrah yang juga Allah berikan kepada masing-masing manusia, yaitu: cinta dan kasih sayang, mawaddah wa rahmah. Kedua sisi fitrah ini tidak akan pernah mungkin tercapai dengan hanya semata pergaulan bebas. Melainkan harus diikat dengan tali yang Allah ajarkan, yaitu pernikahan. Karena itulah Allah memerintahkan agar kita menikah. Sebab itulah yang paling tepat menurut Allah dalam memenuhi tuntutan fitrah tersebut. Tentu tidak ada bimbingan yang lebih sempurna dan membahagiakan lebih dari daripada bimbingan Allah.

Allah berfirman fankihuu, dengan kata perintah. Ini menunjukan pentingnya hakikat pernikahan bagi manusia. Jika membahayakan, tidak mungkin Allah perintahkan. Malah yang Allah larang adalah perzinaan. Walaa taqrabuzzina, dan janganlah kamu mendekati zina (Al-Israa: 32). Ini menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan adalah haram, apalagi melakukannya. Mengapa? Sebab Allah menginginkan agar manusia hidup bahagia, aman, dan sentosa sesuai dengan fitrahnya.

Mendekati zina dengan cara apapun, adalah proses penggerogotan terhadap fitrah. Dan sudah terbukti bahwa pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana. Tidak saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia, melainkan juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri. Tidak jarang kasus seorang ibu yang membuang janinnya ke selokan, ke tong sampah, bahkan dengan sengaja membunuhnya, hanya karena merasa malu menggendong anaknya dari hasil zina.

Perhatikan bagaimana akibat yang harus diterima ketika institusi pernikahan sebagai fitrah diabaikan. Bisa dibayangkan apa akibat yang akan terjadi jika semua manusia melakukan cara yang sama. Ustadz Fuad Shaleh dalam bukunya liman yuridduz zawaj mengatakan, “Orang yang hidup melajang biasanya sering tidak normal: baik cara berpikir, impian, dan sikapnya. Ia mudah terpedaya oleh syetan, lebih dari mereka yang telah menikah.”

Menikah Itu Ibadah

Dalam surat Ar-Rum: 21, Allah menyebutkan pentingnya mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta. Ini menunjukkan bahwa dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari bukti kekusaan Allah swt. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah saw. lebih menguatkan makna pernikahan sebagai ibadah, “Bila seorang menikah berarti ia telah melengkapi separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada paruh yang tersisa.” (HR. Baihaqi, hadits Hasan)

Belum lagi dari sisi ibadah sosial. Dimana sebelum menikah kita lebih sibuk dengan dirinya, tapi setelah menikah kita bisa saling melengkapi, mendidik istri dan anak. Semua itu merupakan lapangan pahala yang tak terhingga. Bahkan dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga moralnya dari hal-hal yang mendekati perzinaan. Alquran menyebut orang yang telah menikah dengan istilah muhshan atau muhshanah (orang yang terbentengi). Istilah ini sangat kuat dan menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum menikah.

Bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasan Allah, membantu tercapainya sifat takwa. dan menjaga diri dari tindakan amoral, maka tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ternyata Anda setiap hari bisa menegakkan ibadah shalat, dengan tenang tanpa merasa terbebani, mengapa Anda merasa berat dan selalu menunda untuk menegakkan ibadah pernikahan, wong ini ibadah dan itupun juga ibadah.

Pernikahan dan Penghasilan

Namun pernikahan begitu indah kudengar

Membuatku ingin segera melaksanakan

Namun bila kulihat aral melintang pukang

Hatiku selalu maju mundur dibuatnya

(Hasrat Hatiku – Suara Persaudaraan)

Seringkali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil. Setiap hari ia harus memengeluarkan biaya yang cukup besar dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia?

Saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw melarang seorang sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya penghasilan. Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah saya baca, Rasulullah saw bila didatangi seorang sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa penghasilan yang diperoleh perbulan, melainkan apa yang ia punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Al-Quran.

Apa yang tergambar dari kenyatan tersebut adalah bahwa Rasulullah saw. tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai masalah, melainkan sebagai pemecah persoalan. Bahwa pernikahan bukan sebuah beban, melainkan tuntutan fitrah yang harus dipenuhi. Seperti kebutuhan Anda terhadap makan, manusia juga butuh untuk menikah. Memang ada sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya seperti yang terkumpul dalam buku Al-ulamaul uzzab alladziina aatsarul ilma ‘alaz zawaj. Tetapi, itu bukan untuk diikuti semua orang. Itu adalah perkecualian. Sebab, Rasulullah saw. pernah melarang seorang sahabatnya yang ingin hanya beribadah tanpa menikah, lalu menegaskan bahwa ia juga beribadah tetapi ia juga menikah. Di sini jelas sekali bagaimana Rasulullah saw. selalu menuntun kita agar berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa merasakan beban sedikit pun.

Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap para jejaka muda maupun tua dalam memasuki wilayah pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika menikah adalah keharusan membangun rumah, memiliki kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya di mana itu semua menuntut biaya yang tidak sedikit. Tetapi kenyataannya telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan tahun yang lalu bahwa banyak dari mereka yang menikah sambil mencari nafkah. Artinya, tidak dengan memapankan diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dan ternyata mereka bisa hidup dan beranak-pinak. Dengan demikian kemapanan ekonomi bukan persyaratan utama bagi sesorang untuk memasuki dunia pernikahan.

Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan setelah pernikahan. Artinya, untuk meraih jatah rezeki tersebut pintu masuknya menikah dulu. Jika tidak, rezki itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui (An-Nur: 32). Ini adalah jaminan langsung dari Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan pernikahan. Artinya, masalah rezeki satu hal dan pernikahan hal yang lain lagi.

Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup.” Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut).

Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.” (HR. Turmudzi dan Nasa’i)

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.” (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun pernikahan.

Persoalannya sekarang, mengapa banyak orang berkeluarga yang hidup melarat? Kenyataan ini mungkin membuat banyak jejaka berpikir dua kali untuk menikah. Dalam masalah nasib kita tidak bisa mengeneralisir apa yang terjadi pada sebagian orang. Sebab, masing-masing ada garis nasibnya. Kalau itu pertanyaanya, kita juga bisa bertanya: mengapa Anda bertanya demikian? Bagaimana kalau Anda melihat fakta yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya melarat dan ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur? Dari sini bahwa pernikahan bukan hambatan, dan kemapanan penghasilan bukan sebuah persyaratan utama.

Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal. Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya. Berzina pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina. Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang, tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.

Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, karena masing-masing dari suami istri saling melengkapi dan saling menopang. Ditambah lagi bahwa masing-masing ada jatah rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang suami yang bisa keluar dari kesulitan ekonomi karena jatah rezeki seorang istri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang jatah rezekinya ditopang oleh anaknya. Perhatikan bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling menopang dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi ekonomi.

Pernikahan dan Menuntut Ilmu

Seorang kawan pernah mengatakan, ia ingin mencari ilmu terlebih dahulu, baru setelah itu menikah. Anehnya, ia tidak habis-habis mencari ilmu. Hampir semua universitas ia cicipi. Usianya sudah begitu lanjut. Bila ditanya kapan menikah, ia menjawab: saya belum selesai mencari ilmu.

Ada sebuah pepatah diucapkan para ulama dalam hal mencari ilmu: lau anffaqta kullaha lan tashila illa ilaa ba’dhiha, seandainya kau infakkan semua usiamu –untuk mencari ilmu–, kau tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya. Dunia ilmu sangat luas. Seumur hidup kita tidak akan pernah mampu menelusuri semua ilmu. Sementara menikah adalah tuntutan fitrah. Karenanya, tidak ada aturan dalam Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu menikah.

Banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu. Benar, hubungan mencari ilmu di sini sangat berkait erat dengan penghasilan. Tetapi banyak sarjana yang telah menyelesaikan program studinya bahkan ada yang sudah doktor atau profesor, tetapi masih juga pengangguran dan belum mendapatkan pekerjaan. Artinya, menyelesaikan periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan penghasilan. Sementara pernikahan selalu mendesak tanpa semuanya itu.

Di dalam Al-Quran maupun Sunnah, tidak ada tuntunan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu atau mencari harta. Bahkan, banyak ayat dan hadits berupa panggilan untuk segera menikah, terlepas apakah kita sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan.

Berbagai pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak menghalangi seorang dalam mencari ilmu. Banyak sarjana yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah. Begitu juga banyak yang gagal. Artinya, semua itu tergantung kemauan orangnya. Bila ia menikah dan tetap berkemauan tinggi untuk mencari ilmu, ia akan berhasil. Sebaliknya, jika setelah menikah kemauannya mencari ilmu melemah, ia gagal. Pada intinya, pernikahan adalah bagian dari kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya. Perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia berjuang juga menegakkan rumah tungga yang Islami.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang sangat mengagumkan dalam masalah pernikahan. Beliau menikah dengan sembilan istri. Padahal beliau secara ekonmi bukan seorang raja atau konglomerat. Tetapi semua itu Rasulullah jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas kerasulannya terbengkalai. Suatu indikasi bahwa pernikahan bukan hal yang harus dipermasalahkan, melainkan harus dipenuhi. Artinya, seorang yang cerdas sebenarnya tidak perlu didorong untuk menikah, sebab Allah telah menciptakan gelora fitrah yang luar biasa dalam dirinya. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Masing-masing orang lebih tahu dari orang lain mengenai gelora ini. Dan ia sendiri yang menanggung perih dan kegelisahan gelora ini jika ia terus ditahan-tahan.

Untuk memenuhi tuntutan gelora itu, tidak mesti harus selesai study dulu. Itu bisa ia lakukan sambil berjalan. Kalaupun Anda ingin mengambil langkah seperti para ulama yang tidak menikah (uzzab) demi ilmu, silahkan saja. Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para ulama itu? Jika tidak, Anda telah rugi dua kali: ilmu tidak maksimal, menikah juga tidak. Bila para ulama uzzab karena saking sibuknya dengan ilmu sampai tidak sempat menikah, apakah Anda telah mencapai kesibukan para ulama itu sehingga Anda tidak ada waktu untuk menikah? Dari sini jika benar-benar ingin ikut jejak ulama uzzab, yang diikuti jangan hanya tidak menikahnya, melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga. Agar seimbang.

Kesimpulan

Akhirnya aku segera tersadar

Hanya pada Allah lah tempat aku bersandar

Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar

Insya Allah azzamku akan terwujud lancar

(Hasrat Hatiku – Suara Persaudaraan)

Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.

Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita pindah dari pengertian “pernikahan sebagai beban” ke “pernikahan sebagai ibadah”. Seperti kita merasa senang menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah telah tiba “jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada Allah”. Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah tangga sejati.

Perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina. Mereka begitu berani mengerjakan itu semua padahal perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia, melainkan lebih dari itu dibenci Allah. Bahkan Allah mengancam mereka dengan siksaan yang pedih. Melihat kenyataan ini, seharusnya kita lebih berani berlomba menegakkan pernikahan, untuk mengimbangi mereka. Terlebih Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luar biasa bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya dengan membangun pernikahan. Wallahu a’lam bishshawab.

Salam Santunku

read more
0 komentar

Jadilah Lelaki Pertama Di Hatinya

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,.."

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

قال البجيرمي: وفي البكارة ثلاث فوائد:

Al Bijairumi mengatakan, “Menikahi bikr atau gadis itu memiliki tiga manfaat sebagai berikut:

إحداها أن تحب الزوج الاول وتألفه، والطباع مجبولة على الانس بأول مأولف، وأما التي مارست الرجال فربما لا ترضى ببعض الاوصاف التي تخالف ما ألفته فتكره الزوج الثاني.

Pertama, dia akan mencintai dan akrab dengan suaminya yang pertama. Manusia memiliki karakter untuk merasa nyaman dengan hal pertama kali yang dia kenal. Sedangkan wanita yang telah berpengalaman dengan banyak laki-laki maka boleh jadi dia tidak suka dengan sebuah sifat atau perilaku yang berbeda dengan perilaku yang telah biasa dia terima akhirnya dia kurang suka dengan suami yang kedua.

الفائدة الثانية أن ذلك أكمل في مودته لها.

Kedua, memiliki istri gadis untuk menjadi sebab suami memiliki cinta yang lebih sempurna kepadanya

الثالثة: لا تحن إلا للزوج الاول.

Ketiga, seorang gadis tidak akan kangen dan terkenang kecuali kepada pasangan yang pertama.

ولبعضهم: نقل فؤادك حيث شئت من الهوى # ما الحب إلا للحبيب الاول

Seorang penyair mengatakan,

Tambatkan hatimu pada siapa saja yang kau sukai

Tidaklah cinta kecuali pada lelaki pertama yang kau cintai

كم منزل في الارض يألفه الفتى # وحنينه أبدا لاول منزل ؟ اه.

Betapa banyak tempat yang pernah disinggahi

Rasa kangen hanyalah pada tempat yang pertama kali”. Sekian kutipan dari perkataan al Baijuri. ”

[Hasyiyah I’anah al Thalibin juz 3 hal 271, karya Sayyid Muhammad Syatho cetakan al Haramain]

Jika kita bawa penjelasan di atas kepada realita sekeliling kita, bisa kita simpulkan bahwa bikr atau gadis yang dimaksudkan oleh para ulama sebagai wanita yang dianjurkan untuk dinikahi bukanlah sembarang gadis alias asalkan masih perawan namun gadis yang belum pernah tersentuh atau terjamah laki-laki dengan bahasa lain belum pernah jatuh ke dalam dekapan laki-laki yang pernah menempati ruangan khusus dalam hatinya. Itulah -meminjam istilah dari Abu Muhammad al Ashri-gadis “culun” yang belum pernah mengenal pacar dan pacaran apalagi malah pernah menjadi playgirl. Sungguh beruntung laki-laki yang mendapatkannya
read more
sungguh aku gak tau apa yg ada dipikiran ku ini, dan sesungguhnya aku sabar,tpi apa salahnya aku ada hasrat untuk ingin bersamanya ..walau aku tau kenyataannya ...

rintihan kecil pasti slalu ada dlam hati kecilku saat dy memang benar2 gak ada di hari2 ku..walau hanya 1 harI 2 hari atau seperapat jam pun !!!!!!!

dengarkan sayang .. ini hanya curahan pperempuan sama dengan perempuan lain nya

dengarkan sayang sedemikian rupa prasaan slalu ingin dengan mu sering aku simpan dengan rapat2 agar kau tak tau bahwa aku MERINDUKAN MU DI SETIAP DETIK WAKTU KU ...
read more
0 komentar

there is no point in me cranky

i wanna be with u anymore and longer
read more
0 komentar

Kupotret Rindu yang Tak Bertunas

Harus jujur kuakui, sulit bagiku tuk definisikan kata rindu. Namun kuserahkan saja jemariku menari untuk menyulam beberapa kalimat agar mengungkapkan apa yang kuketahui tentang rindu itu sendiri.

...
Siapapun berhak memberikan pandangan tentang rindu. Aku berpikir, kata rindu itu sendiri bersifat umum. Dan akan benar-benar bermakna serta bersifat khusus sekiranya disertai obyek yang dirindu. Obyek tersebut bisa nyata ataupun abstrak tergantung subyek atau sosok yang sedang merindu.

Tak salah pula sekiranya kututurkan bahwa rindu adalah sebuah kata kerja bagi hati. Ia bukanlah kata kerja bagi anggota badan yang walaupun anggota badan kerap kali tergerak untuk melakukan sesuatu sebagai respon dari rindu itu sendiri..

Rasanya sulit jua bagiku memandang rindu sebagai sebuah “penyakit”. Namun begitu, tak mudah pula kupandang rindu sebagai reaksi jiwa yang “sehat”. Bagaimana tak kuucap demikian, cobalah engkau rasakan atau bisa jadi detik ini sedang engkau rasakan letupan-letupan rindu yang bergejolak.
read more
Diberdayakan oleh Blogger.